Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan kerusakan lingkungan. Asap yang dihasilkan juga membawa ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama sistem pernapasan. Paparan kabut asap dalam durasi tertentu dapat memicu iritasi saluran napas, memperburuk penyakit paru, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan akut, termasuk ISPA.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Risiko ini perlu diwaspadai karena dampak asap tidak selalu terbatas pada warga yang tinggal dekat lokasi kebakaran. Partikel halus dapat terbawa angin ke wilayah lain sehingga masyarakat tetap berisiko terpapar meski tidak melihat api secara langsung. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa partikel PM2.5 dalam asap karhutla menjadi salah satu ancaman utama bagi kesehatan.
Asap Karhutla Mengandung Partikel Berbahaya
Asap kebakaran hutan mengandung campuran polutan berupa partikel halus dan berbagai gas. Salah satu yang paling perlu diperhatikan adalah particulate matter atau PM2.5, yakni partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Ukurannya yang sangat kecil membuat PM2.5 dapat terhirup hingga ke bagian dalam paru-paru. Paparan asap juga dapat melibatkan karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa lain yang berbahaya bagi tubuh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut asap kebakaran hutan sebagai sumber polusi yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, bahkan di wilayah yang jauh dari titik kebakaran.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa kabut asap tidak boleh dianggap sekadar gangguan jarak pandang. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat dapat mengalami iritasi mata, hidung dan tenggorokan, batuk, hingga sesak napas.
Bagaimana Asap Memicu Risiko ISPA?
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan kelompok penyakit yang menyerang saluran pernapasan dan umumnya disebabkan oleh virus, meskipun sebagian kasus dapat disebabkan bakteri. Asap kebakaran bukanlah virus atau bakteri penyebab infeksi, tetapi polutan di dalamnya dapat mengiritasi saluran pernapasan, memperburuk gejala penyakit yang sudah ada, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Kemenkes mengingatkan bahwa paparan PM2.5 akibat karhutla dapat meningkatkan risiko ISPA. Paparan tersebut juga dapat memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru lainnya. Karena itu, masyarakat perlu mengurangi kontak dengan asap, terutama ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat.
Risiko semakin penting diperhatikan ketika paparan berlangsung berulang atau masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama. Pekerja lapangan, pengendara, pedagang, serta warga yang tinggal di wilayah terdampak perlu mendapatkan perlindungan memadai.
Gejala ISPA yang Perlu Diwaspadai
Gangguan pernapasan akibat paparan asap dapat muncul dalam bentuk keluhan ringan maupun serius. Gejala yang perlu diperhatikan antara lain:
- Batuk yang muncul atau semakin sering.
- Tenggorokan terasa gatal atau sakit.
- Hidung berair, bersin, dan iritasi pada saluran pernapasan.
- Napas berbunyi atau mengi.
- Sesak napas dan rasa tidak nyaman di dada.
- Mata perih atau berair, sakit kepala, serta tubuh terasa lelah.
WHO mencatat bahwa paparan asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, mengi, nyeri dada, serangan asma, dan kesulitan bernapas. Tingkat keparahannya dapat berbeda bergantung pada konsentrasi asap, lamanya paparan, serta kondisi kesehatan individu.
Masyarakat tidak disarankan mengabaikan gejala yang menetap. Apabila batuk terus berlangsung, kondisi pernapasan memburuk, atau muncul keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan diperlukan.
Anak-anak, Lansia, dan Ibu Hamil Lebih Rentan
Tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama saat terpapar kabut asap. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis termasuk kelompok yang memerlukan perhatian lebih.
Pada anak-anak, paru-paru dan sistem tubuh masih berkembang. Sementara itu, lansia lebih rentan mengalami komplikasi karena risiko penyakit paru dan jantung cenderung meningkat seiring usia.
Orang yang memiliki riwayat asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau gangguan jantung juga dapat mengalami perburukan gejala akibat kualitas udara yang buruk. Paparan asap pada ibu hamil perlu dihindari karena polusi udara dikaitkan dengan risiko dampak buruk kehamilan.
Pada 21 Agustus 2026, Kemenkes melaporkan lebih dari tiga juta warga di 37 kabupaten/kota pada tujuh provinsi telah terpapar langsung kabut asap karhutla. Pemerintah pun mengerahkan tenaga kesehatan dan bantuan logistik untuk mengantisipasi dampak kesehatan di wilayah terdampak.
Cara Melindungi Diri dari Asap Kebakaran Hutan
Upaya pencegahan perlu dilakukan sejak kualitas udara mulai memburuk. Pertama, kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga dan pekerjaan fisik berat. Jika tidak ada kebutuhan mendesak, tetaplah berada di dalam ruangan dan tutup pintu serta jendela untuk mengurangi masuknya asap.
Kedua, gunakan masker yang pas di wajah dan mampu menyaring partikel halus, seperti KN95 atau KF94, apabila harus keluar rumah. Masker bukan pengganti upaya mengurangi paparan, sehingga durasi kegiatan di luar ruangan tetap perlu dibatasi.
Ketiga, pantau kualitas udara melalui sumber resmi, termasuk informasi konsentrasi PM2.5 dari BMKG. Informasi tersebut membantu masyarakat menentukan langkah perlindungan sesuai kondisi di wilayah masing-masing.
Keempat, prioritaskan perlindungan kelompok rentan. Anak-anak sebaiknya tidak bermain di luar saat asap pekat, sementara penderita asma atau penyakit paru perlu mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan tenaga kesehatan.
Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan Medis?
Paparan asap tidak selalu langsung menimbulkan gejala berat. Namun, kondisi tertentu memerlukan perhatian segera. Segera cari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat, nyeri dada, kesulitan bernapas yang memburuk, atau batuk yang terus berlangsung disertai kondisi tubuh semakin lemah.
Bagi penderita asma maupun penyakit paru kronis, munculnya gejala yang tidak biasa atau memburuk perlu ditangani lebih cepat. Jangan menunggu sampai gangguan pernapasan menghambat aktivitas secara serius.
Pada akhirnya, bahaya ISPA akibat kebakaran hutan tidak dapat dipisahkan dari persoalan kualitas udara dan perlindungan masyarakat. Mengurangi paparan asap, memantau informasi resmi, dan mengenali tanda bahaya merupakan langkah penting untuk mencegah kondisi semakin parah.
Penanganan karhutla juga harus mengutamakan pencegahan, termasuk menghentikan praktik pembakaran lahan yang tidak terkendali. Perlindungan kesehatan tidak cukup hanya dilakukan ketika kabut asap sudah menyelimuti permukiman. Upaya menjaga udara tetap bersih dan respons cepat terhadap kebakaran perlu berjalan bersamaan agar risiko kesehatan masyarakat dapat ditekan.