
Daftar 5 Manajer Investasi Penerbit ETF Emas yang Resmi Melantai di BEI, tahuberita.com – Investasi emas di Indonesia memasuki babak baru. Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Sel Regulatory Organization (SRO) resmi meluncurkan instrumen Exchange Traded Fund (ETF) emas pada Senin (10/8/2026).
Peluncuran ETF emas tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam perkembangan pasar modal nasional. Untuk pertama kalinya, investor Indonesia mendapatkan pilihan untuk memperoleh eksposur terhadap harga emas melalui instrumen yang diperdagangkan di bursa.
Tidak hanya satu produk, tahap awal peluncuran ETF emas di BEI langsung melibatkan lima manajer investasi. Kelima perusahaan tersebut menerbitkan produk ETF emas yang dapat diperdagangkan melalui mekanisme bursa.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan lima manajer investasi yang menjadi penerbit ETF emas perdana Indonesia, yakni PT Indo Premier Investment Management, PT Mandiri Manajemen Investasi, PT BRI Manajemen Investasi, PT Trimegah Asset Management, dan Syailendra Capital.
Kehadiran lima penerbit tersebut sekaligus menandai semakin beragamnya instrumen investasi yang tersedia bagi masyarakat. Emas yang selama ini lebih banyak dikenal dalam bentuk fisik kini memiliki jalur baru melalui pasar modal.
1. Indo Premier Investment Management
Manajer investasi pertama yang masuk dalam daftar penerbit ETF emas perdana adalah PT Indo Premier Investment Management.
Kehadiran Indo Premier dalam peluncuran ETF emas memperkuat pilihan produk investasi berbasis emas yang dapat diakses melalui ekosistem pasar modal. Sebagai bagian dari industri manajemen investasi, perusahaan tersebut menjadi salah satu dari lima MI yang dipercaya menerbitkan produk ETF emas pada tahap awal.
ETF sendiri merupakan produk reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa seperti saham. Dengan struktur tersebut, investor dapat melakukan transaksi melalui perusahaan sekuritas yang menjadi anggota bursa.
Bagi investor yang sudah terbiasa bertransaksi saham, mekanisme tersebut membuat ETF emas memiliki karakteristik yang relatif mudah dipahami.
Investor tidak perlu membeli emas batangan secara langsung untuk mendapatkan eksposur terhadap pergerakan harga emas. Aset dasar emas berada dalam ekosistem yang mendukung pembentukan produk ETF tersebut.
2. Mandiri Manajemen Investasi
Nama kedua adalah PT Mandiri Manajemen Investasi.
Mandiri Manajemen Investasi menjadi salah satu perusahaan yang ikut membawa produk ETF emas ke lantai bursa. Produk yang diterbitkan tercatat dalam daftar ETF BEI dengan nama Reksa Dana Syariah Mandiri ETF Emas dan kode perdagangan XMES. Data daftar ETF BEI mencantumkan XMES sebagai produk yang dikelola PT Mandiri Manajemen Investasi.
Kehadiran produk tersebut memperlihatkan bahwa ETF emas tidak sekadar menawarkan eksposur terhadap komoditas, tetapi juga mulai memperluas pilihan produk investasi yang dapat digunakan untuk diversifikasi portofolio.
Dengan diperdagangkan di BEI, investor memiliki fleksibilitas untuk melakukan transaksi selama jam perdagangan bursa. Harga unit ETF dapat bergerak mengikuti kondisi pasar dan dinamika harga aset dasar.
Hal ini menjadi salah satu perbedaan penting dibandingkan pembelian emas fisik yang membutuhkan proses transaksi dan penyimpanan secara langsung.
3. BRI Manajemen Investasi
Selanjutnya ada PT BRI Manajemen Investasi atau BRI-MI.
Nama BRI-MI sebelumnya telah muncul dalam persiapan pengembangan ETF emas di Indonesia. Perusahaan tersebut bahkan telah menyiapkan kerja sama dengan sejumlah pihak dalam membangun ekosistem produk berbasis emas.
Dalam pengembangan ETF emas, BRI-MI berperan sebagai manajer investasi. Ekosistem pendukungnya melibatkan pihak yang memiliki fungsi berbeda, mulai dari penyediaan dan kustodi emas hingga bank kustodian dan dealer partisipan.
Kehadiran BRI-MI dalam peluncuran perdana juga menunjukkan besarnya minat industri manajemen investasi terhadap instrumen berbasis komoditas.
ETF emas memberikan ruang bagi manajer investasi untuk memperluas variasi produk sekaligus memberikan alternatif baru bagi investor yang selama ini memiliki ketertarikan terhadap emas.
4. Trimegah Asset Management
Manajer investasi berikutnya adalah PT Trimegah Asset Management.
Trimegah menjadi salah satu dari lima MI yang secara resmi menerbitkan ETF emas pada momentum peluncuran di BEI. Produk yang diterbitkan juga masuk dalam kelompok ETF emas perdana yang tersedia bagi investor di pasar modal Indonesia.
Kehadiran Trimegah memperlihatkan bahwa kompetisi di industri ETF emas mulai terbentuk sejak tahap awal.
Bagi investor, bertambahnya penerbit dapat memberikan lebih banyak pilihan untuk dibandingkan. Investor nantinya tidak hanya melihat harga emas, tetapi juga perlu memperhatikan karakteristik masing-masing produk, biaya pengelolaan, likuiditas, serta perbedaan antara harga ETF di bursa dan nilai aset bersihnya.
Dengan demikian, hadirnya lima penerbit sekaligus menjadi peluang bagi pasar untuk membangun ekosistem ETF emas yang lebih aktif.
5. Syailendra Capital
Nama terakhir adalah Syailendra Capital.
Syailendra menjadi bagian dari lima manajer investasi yang menerbitkan ETF emas pada peluncuran perdana di BEI. OJK secara langsung menyebut Syailendra Capital sebagai salah satu penerbit dalam acara peluncuran ETF emas pada 10 Agustus 2026.
Produk ETF Syailendra juga tercatat dalam daftar ETF BEI dengan kode XSGO untuk Reksa Dana Syariah Syailendra ETF Sharia Gold.
Masuknya Syailendra membuat pilihan produk ETF emas semakin beragam. Investor dapat membandingkan berbagai produk berdasarkan tujuan investasi, struktur biaya, likuiditas, serta karakteristik masing-masing ETF.
ETF Emas Resmi Hadir di Bursa
Peluncuran lima ETF emas tersebut bukan sekadar menambah jumlah produk di BEI. Instrumen ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem bulion nasional.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan ETF emas menjadi momentum penting karena produk tersebut telah memperoleh kesesuaian prinsip syariah berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).
Dengan status tersebut, ETF emas diharapkan dapat menjangkau basis investor yang lebih luas, termasuk masyarakat yang mempertimbangkan aspek kepatuhan syariah dalam memilih instrumen investasi.
Friderica juga menilai ETF emas menawarkan kepraktisan dan likuiditas karena diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Masyarakat tidak harus menyimpan emas secara fisik untuk mendapatkan eksposur terhadap aset tersebut.
Cara Kerja ETF Emas
Secara sederhana, ETF emas merupakan reksa dana yang diperdagangkan di bursa dengan emas sebagai aset dasar.
KSEI menjelaskan bahwa pengembangan instrumen tersebut melibatkan berbagai pihak dalam satu ekosistem. Prosesnya mencakup penyediaan emas fisik sebagai aset dasar, pencatatan Electronic Gold Receipt (EGR) di KSEI sebagai representasi kepemilikan elektronik atas emas, hingga perdagangan unit penyertaan ETF emas di BEI.
Struktur tersebut membuat ETF emas berbeda dengan produk emas digital biasa maupun pembelian emas batangan.
Investor memperoleh instrumen yang diperdagangkan melalui mekanisme pasar modal. Karena itu, selain memantau harga emas, investor juga perlu memahami karakteristik ETF dan risiko yang menyertainya.
Apa Keuntungan ETF Emas?
Salah satu daya tarik utama ETF emas adalah kepraktisan.
Investor tidak perlu memikirkan tempat penyimpanan emas fisik atau biaya keamanan secara langsung. Transaksi juga dilakukan melalui sistem perdagangan bursa.
ETF emas juga dapat menjadi instrumen diversifikasi. Emas selama ini dikenal sebagai aset yang sering digunakan investor untuk menghadapi ketidakpastian pasar.
Namun, status emas sebagai aset safe haven bukan berarti ETF emas bebas risiko. Harga ETF tetap dapat bergerak naik dan turun mengikuti kondisi pasar.
Investor juga perlu memperhatikan biaya pengelolaan, likuiditas perdagangan, risiko perubahan harga emas, serta ketentuan yang tercantum dalam prospektus masing-masing produk.
Bagian dari Penguatan Ekosistem Bulion
Peluncuran ETF emas juga berkaitan dengan pengembangan ekosistem bulion Indonesia.
Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat mengatakan ETF emas menjadi bagian dari penguatan ekosistem bulion nasional melalui integrasi pasar modal dengan ekosistem bulion.
Menurut dia, pengembangan ETF emas merupakan hasil kolaborasi antara OJK, SRO, manajer investasi, bank kustodian, dealer participant, bank bulion, dan pelaku industri lainnya.
Dengan demikian, keberadaan ETF emas tidak hanya berkaitan dengan transaksi investasi, tetapi juga menyangkut bagaimana emas fisik dapat terhubung dengan infrastruktur pasar modal.
Bukan Berarti Emas Fisik Ditinggalkan
Kehadiran ETF emas tidak serta-merta menggantikan emas fisik.
Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Emas fisik memberikan kepemilikan langsung atas logam mulia, sedangkan ETF emas memberikan eksposur terhadap emas melalui instrumen pasar modal.
Perbedaan ini membuat investor perlu menentukan instrumen berdasarkan kebutuhan dan profil risiko.
Bagi masyarakat yang menginginkan kepemilikan fisik, emas batangan tetap menjadi pilihan. Sementara bagi investor yang mengutamakan kemudahan transaksi melalui bursa, ETF emas dapat menjadi alternatif.
Dengan semakin banyaknya pilihan, masyarakat memiliki ruang lebih luas untuk menentukan cara berinvestasi emas.
Tantangan ETF Emas Setelah Peluncuran
Setelah resmi diluncurkan, tantangan berikutnya adalah membangun likuiditas dan minat investor.
ETF membutuhkan aktivitas perdagangan yang sehat agar investor dapat membeli maupun menjual unit dengan mudah. Peran manajer investasi, dealer participant, anggota bursa, bank kustodian, serta lembaga pendukung menjadi penting untuk menjaga kelancaran ekosistem tersebut.
Edukasi juga menjadi pekerjaan rumah.
Masyarakat perlu memahami bahwa ETF emas bukan berarti membeli emas fisik secara langsung. Harga unitnya dapat berfluktuasi dan investor tetap menghadapi risiko pasar.
Karena itu, sebelum membeli ETF emas, investor sebaiknya membaca prospektus dan memahami biaya, mekanisme perdagangan, aset dasar, serta risiko masing-masing produk.
Lima MI Jadi Awal Babak Baru
Peluncuran ETF emas di BEI pada 10 Agustus 2026 menandai babak baru dalam perkembangan investasi emas di Indonesia.
Lima manajer investasi Indo Premier Investment Management, Mandiri Manajemen Investasi, BRI Manajemen Investasi, Trimegah Asset Management, dan Syailendra Capital menjadi penerbit perdana yang membawa instrumen tersebut ke pasar modal.
Kehadiran produk ini sekaligus mempertemukan popularitas emas sebagai aset investasi dengan infrastruktur pasar modal Indonesia.
Bagi investor, pilihan menjadi semakin beragam. Emas kini tidak hanya dapat dimiliki dalam bentuk batangan atau melalui layanan tabungan emas, tetapi juga dapat diakses melalui instrumen yang diperdagangkan di bursa.
Ke depan, perkembangan ETF emas akan sangat ditentukan oleh likuiditas, biaya, transparansi, serta kemampuan industri dalam memperluas basis investor.
Jika ekosistemnya berkembang dengan baik, ETF emas berpotensi menjadi salah satu instrumen penting dalam diversifikasi pasar modal Indonesia sekaligus memperkuat integrasi antara pasar modal dan ekosistem bulion nasional.