June 24, 2026

Profil Nanik Sudaryati Deyang

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Profil Nanik Sudaryati Deyang, Kepala Badan Gizi Nasional yang Baru Ditunjuk Presiden Prabowo, tahuberita.com – Nama Nanik Sudaryati Deyang mendadak menjadi perhatian publik setelah Presiden Prabowo Subianto resmi menunjuknya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru. Penunjukan tersebut dilakukan menyusul pergantian kepemimpinan di lembaga yang bertanggung jawab menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas pemerintah.

Nanik dipercaya menggantikan Dadan Hindayana yang sebelumnya memimpin BGN sejak lembaga tersebut dibentuk. Keputusan Presiden diumumkan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (2/6/2026). 

Penunjukan ini sekaligus menempatkan Nanik pada posisi strategis di tengah besarnya tantangan pelaksanaan program gizi nasional yang kini menjadi salah satu fokus utama pemerintahan. Dengan anggaran yang besar dan cakupan penerima manfaat yang mencapai puluhan juta orang, kepemimpinan baru di BGN menjadi sorotan berbagai kalangan.

Lalu siapa sebenarnya Nanik Sudaryati Deyang? Bagaimana perjalanan kariernya hingga dipercaya memimpin salah satu lembaga paling penting dalam pemerintahan saat ini?

 

Berawal dari Dunia Jurnalistik

Nanik Sudaryati Deyang lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968. Sebelum terjun ke dunia politik dan pemerintahan, ia dikenal luas sebagai seorang jurnalis senior yang memiliki pengalaman panjang di industri media nasional. 

Karier jurnalistiknya dimulai sebagai wartawati di Tabloid Bangkit yang berada di bawah kelompok media Kompas Gramedia. Pengalaman sebagai reporter membentuk kemampuannya dalam melakukan investigasi, membangun komunikasi publik, dan memahami berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat. 

Seiring waktu, kariernya berkembang ke level manajerial. Nanik kemudian dipercaya memimpin berbagai media yang tergabung dalam Kelompok Media Peluang (KMP). Di perusahaan tersebut, ia menduduki sejumlah posisi strategis, mulai dari pemimpin umum majalah hingga direktur dan komisaris pada beberapa media cetak nasional. 

Pengalaman panjang di industri media membuatnya dikenal sebagai sosok yang memiliki kemampuan komunikasi yang kuat, terutama dalam membangun hubungan dengan publik dan mengelola informasi secara efektif.

 

Masuk ke Dunia Politik Nasional

Nama Nanik mulai dikenal lebih luas di tingkat nasional ketika terlibat dalam aktivitas politik. Ia menjadi bagian dari tim pendukung Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden 2019.

Saat itu, Nanik dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Posisi tersebut membuatnya aktif dalam berbagai kegiatan kampanye serta penyusunan strategi komunikasi politik. 

Kedekatannya dengan lingkaran Prabowo terus berlanjut setelah pemerintahan baru terbentuk. Pengalaman politik dan kemampuan komunikasi yang dimilikinya menjadi modal penting dalam menjalankan berbagai tugas pemerintahan.

Banyak pengamat menilai bahwa kombinasi pengalaman media dan politik menjadikan Nanik sebagai figur yang mampu memahami dinamika komunikasi publik, sebuah kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam pengelolaan program-program nasional berskala besar.

 

Terlibat dalam Program Pengentasan Kemiskinan

Sebelum masuk ke Badan Gizi Nasional, Nanik lebih dulu dipercaya mengemban tugas di bidang pengentasan kemiskinan.

Ia menjabat sebagai Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) periode 2024–2029. Dalam posisi tersebut, Nanik bekerja bersama sejumlah tokoh nasional untuk mempercepat program pengurangan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Pengalaman di BP Taskin dinilai memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat Indonesia, termasuk masalah akses pangan, stunting, dan ketimpangan ekonomi.

Latar belakang tersebut kemudian dianggap relevan dengan tugas-tugas yang dijalankan Badan Gizi Nasional, terutama dalam memastikan program pemenuhan gizi menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

 

Bergabung dengan Badan Gizi Nasional

Karier Nanik di Badan Gizi Nasional dimulai pada September 2025 ketika Presiden menunjuknya sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi. 

Dalam posisi tersebut, ia memiliki tanggung jawab besar untuk mengawasi aspek komunikasi publik serta melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di berbagai daerah.

Sebagai wakil kepala, Nanik aktif melakukan kunjungan lapangan untuk memantau distribusi makanan bergizi di sekolah-sekolah dan pusat pelayanan gizi. Ia juga kerap terlibat dalam koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah guna memastikan program berjalan sesuai target. 

Keterlibatan langsung di lapangan membuatnya memahami berbagai tantangan yang dihadapi BGN, mulai dari persoalan distribusi, kualitas makanan, hingga pengawasan pelaksanaan program.

 

Dipilih Menjadi Kepala BGN

Ketika Presiden Prabowo melakukan evaluasi terhadap kepemimpinan BGN pada Juni 2026, nama Nanik muncul sebagai figur yang dinilai paling siap untuk melanjutkan dan memperbaiki kinerja lembaga.

Pemerintah menyebut pergantian pimpinan dilakukan setelah evaluasi selama hampir satu setengah tahun terhadap pelaksanaan program dan tata kelola organisasi. Dalam proses tersebut, Nanik dianggap memiliki pengalaman yang cukup karena sebelumnya sudah berada di dalam struktur kepemimpinan BGN. 

Keputusan Presiden menunjuk Nanik juga dipandang sebagai upaya menjaga kesinambungan program sekaligus mempercepat berbagai perbaikan yang dibutuhkan.

Sebagai kepala baru, ia akan memimpin lembaga yang mengelola salah satu program sosial terbesar di Indonesia dengan target penerima manfaat mencapai puluhan juta anak sekolah, ibu hamil, balita, dan kelompok rentan lainnya. 

 

Tantangan Besar Menanti

Meski memiliki pengalaman yang cukup panjang, tugas yang dihadapi Nanik tidak bisa dibilang ringan.

Badan Gizi Nasional saat ini berada dalam sorotan publik karena menjadi pelaksana utama Program Makan Bergizi Gratis yang memiliki cakupan nasional. Program tersebut membutuhkan koordinasi yang kompleks dengan pemerintah daerah, sekolah, penyedia makanan, serta berbagai lembaga pengawas.

Selain itu, pemerintah juga menuntut peningkatan kualitas tata kelola, pengawasan anggaran, dan standar keamanan pangan. Semua aspek tersebut menjadi perhatian utama setelah evaluasi terhadap pelaksanaan program selama beberapa waktu terakhir. 

Di sisi lain, masyarakat berharap kepemimpinan baru mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh kelompok sasaran.

 

Gaya Kepemimpinan yang Dinanti

Sebagai mantan jurnalis, Nanik dikenal memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Banyak pihak berharap kemampuan tersebut dapat membantu memperkuat hubungan antara BGN dengan masyarakat, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Pengalamannya dalam dunia media juga diyakini dapat meningkatkan transparansi dan keterbukaan informasi publik terkait pelaksanaan program gizi nasional.

Di tengah besarnya ekspektasi publik, Nanik kini menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa dirinya tidak hanya mampu mengelola komunikasi lembaga, tetapi juga mampu memimpin organisasi besar yang mengelola anggaran dan program strategis nasional.

Penunjukan Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional menandai babak baru dalam pelaksanaan program gizi nasional Indonesia. Berbekal pengalaman sebagai jurnalis senior, aktivis politik, pejabat pengentasan kemiskinan, hingga Wakil Kepala BGN, Nanik dianggap memiliki modal yang cukup untuk memimpin lembaga tersebut. 

Namun tantangan yang menantinya tidaklah kecil. Ia harus memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan efektif, menjaga kualitas layanan, memperkuat tata kelola organisasi, serta mempertahankan kepercayaan publik terhadap salah satu program unggulan pemerintah. Dengan latar belakang dan rekam jejak yang dimilikinya, publik kini menunggu bagaimana Nanik membawa Badan Gizi Nasional memasuki fase baru di bawah kepemimpinannya.