January 17, 2026

Sri Mulyani

 

Daftar Saham yang Terkoreksi Parah Usai Sri Mulyani Tinggalkan DPR, tahuberita.com –  Pasar modal Indonesia kembali bergejolak usai kabar mengejutkan mengenai lengsernya Sri Mulyani Indrawati dari jabatannya. Keputusan politik tersebut tidak hanya memukul kepercayaan pasar, tetapi juga membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 1 persen dalam satu hari perdagangan. Dampak terbesar terlihat pada saham-saham unggulan, khususnya di sektor perbankan dan keuangan.

Berikut daftar saham yang terkoreksi parah serta analisis penyebabnya.

Saham Perbankan Jadi Korban Utama

Sektor perbankan menjadi kelompok saham yang paling terpukul usai kabar pergantian Sri Mulyani. Pasalnya, bank merupakan sektor yang sangat bergantung pada stabilitas makroekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal.

Beberapa saham bank besar mencatat penurunan signifikan:

  • BBCA (Bank Central Asia Tbk) – turun sekitar 3,75%
  • BMRI (Bank Mandiri Tbk) – melemah 4,06%
  • BBNI (Bank Negara Indonesia Tbk) – terkoreksi 4,35%
  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia Tbk) – turun 2,5%
  • BBTN (Bank Tabungan Negara Tbk) – menjadi yang paling parah, anjlok hampir 9,7%

Penurunan ini mencerminkan kepanikan investor terhadap kemungkinan perubahan arah kebijakan fiskal, yang dikhawatirkan akan berdampak pada kinerja sektor perbankan ke depan.

 

Saham Sektor Keuangan Non-Bank Ikut Tertekan

Selain bank, saham-saham keuangan non-bank juga terkena dampak. Emiten yang bergerak di bidang asuransi, pembiayaan, dan investasi mengalami pelemahan. Investor menilai sektor ini juga sensitif terhadap pergerakan suku bunga dan kestabilan fiskal.

Beberapa saham yang mengalami koreksi tajam antara lain:

  • ASII (Astra International Tbk) yang tertekan akibat eksposur pada pembiayaan otomotif.
  • MFIN (Mandala Multifinance Tbk) dan beberapa perusahaan pembiayaan lain yang ikut terkoreksi seiring meningkatnya risiko makroekonomi.

 

Saham Konsumer dan Infrastruktur Tidak Luput

Meskipun tidak seburuk perbankan, saham-saham sektor konsumer dan infrastruktur juga melemah. Investor menilai konsumsi masyarakat berpotensi tertekan jika stabilitas ekonomi terganggu.

Saham-saham seperti ICBP (Indofood CBP Sukses Makmur Tbk) dan TLKM (Telkom Indonesia Tbk) juga ikut mencatat penurunan, meski tidak sebesar perbankan. Sektor infrastruktur, seperti konstruksi dan energi, ikut tertekan karena adanya kekhawatiran terhadap pembiayaan proyek pemerintah di tengah ketidakpastian fiskal.

 

Faktor Utama Koreksi Saham

Ada beberapa alasan mengapa saham-saham unggulan terkoreksi cukup parah usai lengsernya Sri Mulyani:

  1. Kehilangan Figur Kredibel – Sri Mulyani dianggap sebagai simbol disiplin fiskal. Hilangnya sosok ini memunculkan keraguan di pasar.
  2. Ketidakpastian Kebijakan – Investor belum mendapatkan gambaran jelas arah kebijakan menteri keuangan baru.
  3. Pelemahan Rupiah – Rupiah sempat melemah lebih dari 1 persen ke level Rp16.500/USD, menambah tekanan pada pasar saham.
  4. Aksi Jual Asing – Investor asing memilih keluar dari pasar, mencatatkan net sell signifikan.

 

Tanggapan Pelaku Pasar

Analis dari Mirae Asset menilai bahwa aksi jual saham perbankan adalah reaksi spontan terhadap kabar politik yang mengejutkan. Sementara itu, beberapa analis lain menilai bahwa koreksi yang terjadi bisa menjadi momen akumulasi, khususnya untuk saham-saham big caps, jika stabilitas pasar kembali terjaga.

Bank Indonesia pun bergerak cepat dengan melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah. Di sisi lain, Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa pasar akan kembali pulih dalam waktu dekat.

 

Peluang di Tengah Koreksi

Meski IHSG melemah dan banyak saham terkoreksi, kondisi ini tidak selalu buruk bagi investor jangka panjang. Koreksi harga bisa menjadi peluang untuk membeli saham-saham fundamental kuat dengan harga lebih murah.

Saham perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI diperkirakan tetap menjadi pilihan utama investor karena fundamental yang solid. Begitu kondisi pasar stabil, saham-saham tersebut berpotensi rebound.

 

Kabar lengsernya Sri Mulyani Indrawati dari DPR memberi dampak langsung ke pasar modal Indonesia. IHSG jatuh lebih dari 1 persen, dengan sektor perbankan dan keuangan menjadi korban utama. Daftar saham yang terkoreksi parah antara lain BBCA, BMRI, BBNI, BBRI, hingga BBTN yang mencatat penurunan hampir 10 persen.

Pelemahan rupiah, ketidakpastian arah kebijakan, serta aksi jual investor asing memperburuk tekanan di pasar. Meski begitu, banyak analis melihat bahwa koreksi ini bersifat sementara, terutama jika Menteri Keuangan baru mampu menjaga kredibilitas fiskal.

Bagi investor, kondisi ini bisa menjadi peringatan sekaligus peluang. Pasar mungkin bergejolak dalam jangka pendek, tetapi saham-saham dengan fundamental kuat tetap memiliki prospek cerah dalam jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *