Oesman Sapta Dinilai Arogan, Hanura ‘Gaduh’

69
views

TahuBerita.com, Jakarta – Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO) mendapat mosi tidak percaya dari beberapa Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Hanura. Wakil Sekretaris Jenderal Hanura, Dadang Rusdiana, menjelaskan salah satu alasan mosi tidak percaya terhadap OSO adalah karena dia kerap membuat keputusan sepihak terkait pemilihan kepala daerah (Pilkada).

“Ya dia udah buat SK, dibuat dengan Sekjen. Kemudian esoknya dia cabut lagi SK itu, diambil, dan diminta kepada Sekjen untuk menandatangani SK yang berbeda. Ya Sekjen menolak, karena malu dong,” kata Dadang di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Senin 15 Januari 2018. Alhasil, OSO menimbulkan SK ganda kepada dua calon. Padahal kedua calon juga sudah membayar ‘mahar’ politik kepada Hanura. Hal ini juga menimbulkan keributan di lapangan.

“Ini kan aib ya. Mahar diambil, SK-nya diganti, maharnya tidak dikembalikan. Ini kan sudah mencoreng Partai Hanura. Contoh di Purwakarta itu kan ramai terus, gontok-gontokan. Karena DPC berpegang pada SK yang ditandangani Ketua dan Sekjen. Kemudian ada calon lain mendaftar dengan SK lain,” papar Dadang. “Ya siapa yang ingin dipimpin oleh orang yang enggak karuan dalam memimpin,” imbuh dia.

Pendapat senada juga dilontarkan Ketua DPP Hanura, Dossy Iskandar. OSO dianggap sewenang-wenang memberhentikan DPD. “Tentu pelanggarannya cukup banyak dan kami memandang setelah dipaparkan tadi cukup memenuhi persyaratan melanggar AD/RT, salah satunya memberhentikan DPD tanpa mekanisme partai, kemudian dalam pelaksanaan pilkada ada pengganti-pengganti yang tidak melalui mekanisme partai,” jelas Dossy Iskandar di Hotel Ambhara, Blok M, Jaksel, Senin (15/1/2018).

Selain itu,  menurut Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Hanura, Wishnu Dewanto, OSO tercatat memecat pengurus daerah atau DPD secara semena-mena. Sedikitnya 6 provinsi yang mendapat perlakuan tak mengenakkan dari OSO, salah satunya Jabar. “Ada Sumut, ada Jabar, ada Jateng, ada Maluku Utara, Sumsel belum,” ujar Wishnu.

“Banyak aduan yang menyatakan komunikasi politik, arogan, tidak memperhatikan komunikasi sebagai seorang politisi senior yang santun karena kan kader politik kan tidak dibayar, mereka mengabdikan di rumah politik ini. Tentunya diberikan apresiasi, salah satunya diayomi tidak diberikan kalimat-kalimat yang represif,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, OSO meyakini Ketua Dewan Pembina Partai Hanura Wiranto tidak akan setuju dengan segelintir pengurus partai yang menggelar rapat di Hotel Ambhara. “Pasti Pak Wiranto enggak setuju. Kenapa? Enggak ada dasar untuk memecat saya. Kalau dia setuju pecat, saya pecat balik,” ujar OSO di Hotel Manhattan, Jakarta, Senin (15/1/2018).

Seperti diketahui, pagi tadi sejumlah pengurus Hanura memberhentikan sepihak OSO dari jabatannya. Pemecatan itu disebut-sebut atas dasar permintaan dari 27 DPD dan lebih dari 400 DPC.