BPIP Dianggap Jadi Alat ‘Gebuk’

1881
views

TahuBerita.com, Jakarta – Berdasarkan pengalaman pada masa orde lama hingga orde baru, Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun, menegaskan bahwa hadirnya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengkhawatirkan. “Pengalaman sejarah kita mengatakan, Jika itu (BPIP) dikerjakan oleh negara, maka kemudian dia menjadi alat penggebuk,” tegasnya pada acara diskusi Indonesia Lawyers Club, Selasa (05/06/2018).

Refly mengaku bukan kali ini saja ia mengritisi BPIP. “Saya termasuk orang yang mengatakan ketika pancasila ini ingin dilembagakan institusinya, di Kompas saya sudah mengatakan, saya tidak setuju,” ungkapnya.

Sosialisasi pancasila, menurut Refly, dapat dilakukan melalui lembaga pendidikan. “Kalau kita ingin melembagakan pancasila, melakukan sosialisasi terhadap pancasila, preferensi saya mungkin jangan membentuk sebuah lembaga khusus,” pintanya.

Meski beranggotakan kalangan akademisi, Refly menyerapahi kinerja BPIP. “Saya tadi mendengar, (anggota BPIP) Profesor Widodo sama Prof Mahfud. Luar biasa. Saya yakin seyakin-yakinnya tidak akan mampu BPIP mengerjakan itu,” tegasnya.

Bukan tanpa alasan, Refly menganggap, nantinya BPIP akan menggantikan fungsi Mahkamah Konstitusi. “Satu titik saja. Bagaimana melakukan kajian terhadap produk perundang-undangan yang dianggap anti pancasila, dianggap bertentangan dengan pancasila? Apakah BPIP kemudian ingin menggantikan fungsi MK misalnya, melakukan judicial review terhadap produk perundang-undangan yang dianggap anti pancasila misalnya?” tandasnya.

Untuk membuktikan kinerja BPIP, Refly menantang siapapun untuk membuktikan hasil kerja BPIP. “Ini lembaga input-nya jelas, tapi output-nya sama outcome-nya not measureable. Coba tunjukkan pada saya, kira-kira setahun ini outcome sama output-nya apa yang measureable?” tanyanya.