7 Cara Cegah Terorisme di Kampus

28
views

TahuBerita.com, Jakarta – Terkait ditangkapnya tiga terduga teroris dan temuan bom di Kampus Universitas Riau (UNRI), Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Sirozi, ikut angkat bicara. Menurutnya, terorisme merupakan soal kemaslahatan masyarakat. “Jangankan sebuah kampus, sebuah negara pun bisa hancur lebur oleh tindakan para teroris,” tegasnya, Minggu (03/06/2018).

Sirozi mengingatkan agar semua pihak bisa meminimalisir kelalaian juga mengantisipasi keterlibatan perseorangan atau lembaga kampus dalam gerakan terorisme. “Kalangan PT (perguruan tinggi), termasuk PTKI, perlu berupaya ekstra keras untuk tidak sedikitpun memberi ruang bagi para teroris untuk berada di dalamnya, walaupun hanya sekedar kongkow-kongkow,” ujarnya.

Sirozi menegaskan pentingnya pendekatan pimpinan PTKI, agar warga kampus terutama mahasiswa tidak mengikuti kelompok terorisme. Menurutnya, ada tujuh langkah untuk mencegah persemaian terorisme di kampus.

  1. Pihak kampus perlu membangun keakraban dengan mahasiswa. Pimpinan PT dan  mahasiswa harus dekat di hati, tidak hanya dekat secara fisik pada saat pelaksanaan kegiatan.
  2. Mainstreaming prestasi akademik dan non akademik. Para mahasiswa perlu diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengejar prestasi, lalu setiap prestasi yang diraih mendapat apresiasi dari para pimpinan PT.
  3. Harus ada SOP (Standard Operating Procedure), pedoman, serta kode etik yang jelas, yang diterapkan secara konsisten, untuk semua kegiatan mahasiswa, agar semua kegiatan mereka di dalam dan luar kampus termonitor, terkendali, kredibel dan akuntabel.
  4. Harus ada pendampingan dan pengawasan yang ketat terhadap semua kegiatan mahasiswa oleh para pimpinan kampus. Wakil Rektor dan Wakil Dekan 3 harus turun melebur bersama mahasiswa, sambil pasang mata, pasang telinga, dan membuka hati.
  5. Perlu ada persyaratan dan pengawasan untuk izin pemanfaatan semua sarana kampus, termasuk mushala dan masjid, agar tidak disalahgunakan.
  6. Evaluasi pelaksanaan dan materi perkuliahan keagamaan kurikuler dan ekstrakurikuler, agar tidak disisipi dan disusupi dengan pandangan keagamaan intoleran.
  7. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan riil, action to action, dalam rangka mainstreaming Islam Wasatiyah, tidak hanya dalam retorika atau postingan WAG atau FGD atau Seminar,