Bertahan dalam Kekeringan dengan Palotang

25 Views

Artikel ditulis oleh Uliyasi Simanjuntak, IRED Communications Officer, Wahana Visi Indonesia di Sumba Timur

Pemandangan dari Bukit Desa Mbatapuhu merupakan pemandangan yang paling dicari para pemburu foto di segala musim. Saat musim hujan, bukit akan berubah menjadi padang rumput hijau yang luas. Saat musim kemarau, orang-orang biasanya berburu menyaksikan matahari terbenam.

Namun, siapa sangka di balik keindahannya, warga Desa Mbatapuhu memiliki tantangan yang berat untuk sekadar bertahan di tanah leluhur.  Warga desa harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan makanan keluarga dengan kondisi mata air mereka terbatas. Selain itu tanahnya juga tertutup batu keras sehingga sangat sulit untuk ditanami.

Di desa yang berjarak sekitar 75,3 km dari pusat Kota Waingapu, Sumba Timur, masyarakat harus berjalan menanjak tebing setinggi 250 meter untuk mencapai mata air suci yang disebut Reti Ahu yang berarti ‘Kuburan Anjing’. Sesampainya di sana, mereka harus mengantre lama karena ada banyak orang mengambil air. Empat tahun sebelumnya, selama musim kemarau, beberapa orang bahkan pulang dengan tangan kosong karena orang lain sudah menghabiskan air di mata air untuk keperluan rumah tangga atau ternak.

Namun menurut Haing Bara Matolang (53), salah satu pemimpin warga, Desa Mbatapuhu tidak lagi mengalami kejadian yang sama seperti dulu. Menurut pengamatannya, dalam dua tahun terakhir selama musim kemarau, air dari Reti Ahu belum surut, meskipun telah digunakan berkali-kali oleh 140 KK di desa tersebut.

“Dulu, para tetua adat mengatakan bahwa mata air Reti Ahu memiliki pola. Jika panen gagal, aliran air akan meningkat. Jika panen berkembang, akan ada kekurangan air. Namun, dalam dua tahun terakhir air belum surut meskipun ada banyak tanaman,” kata Haing Bara.

Haing, yang juga kepala kelompok swadaya warga, menyadari bahwa peningkatan aliran air adalah hasil dari kerja keras orang-orang yang berlatih teknik Palotang (memangkas ujung daun, merawat dan membersihkan dalam istilah Bahasa Sumba-red) bersama-sama. Kegiatan ini didukung oleh Wahana Visi Indonesia lewat Indonesian Rural Economic Development (IRED) sejak tahun 2015.

Bahkan dengan aliran air yang kini cukup melimpah, pemerintah desa sudah mulai membangun saluran pipa untuk memudahkan orang mengakses air bersih di rumah mereka masing-masing.

“Kami juga mengelola pohon asli sehingga pohon banyak tumbuh di sekitar mata air ini. Kami menggali 140 lubang lalu kami menyebarkan benih petai cina di dalamnya sehingga saat hujan turun, air akan tetap berada di permukaan tanah,” tambah pria ini sambil melihat tunas petai cina kecil yang mulai tumbuh.

Sebanyak 30 orang dalam kelompok swadaya mereka secara aktif terlibat dalam kegiatan palotang di lahan seluas 2 hektar yang dilakukan sebulan sekali. Selain mengolah mata air, kegiatan ini juga berguna dalam membangun keakraban dan bertukar informasi meningat terbatasnya jaringan telepon di Desa Mbatapuhu.

“Jika ada orang yang membutuhkan bantuan dalam mempersiapkan tanah untuk menanam kacang tanah, mereka dapat bertanya dalam kegiatan ini. Kami juga membiacarakan rencana untuk masa depan, seperti membuat pagar pembatas antara lahan pertanian dan penggembalaan, kami juga pembagian lahan untuk setiap rumah tanga. Nantinya karena ini telah menjadi kegiatan bersama dan saling memiliki lokasi Palotang, orang-orang tidak lagi menebang kayu di sini,” tambahnya pria yang baru saja mengikuti pelatihan pupuk organik cair tersebut.

Sumber: wahanavisi.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *