Patrialis Akbar Yakin Dirinya Dizalimi KPK

Jakarta (tahuberita.com): Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), Patrialis Akbar dan rekannya, Kamaludin sebagai tersangka penerima suap. Patrialis mengklaim dirinya telah dizalimi KPK karena ia  tidak pernah menerima uang sepeser pun dari importir daging, Basuki Hariman, terkait judicial review UU nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

“Saya ingin menyampaikan kepada yang mulia‎ bapak Ketua MK, bapak Wakil Ketua MK, dan para Hakim MK yang saya muliakan dan kepada seluruh rakyat Indonesia, saya mengatakan, saya hari‎ ini dizalimi, karena saya tidak pernah menerima uang satu rupiah pun dari pak Basuki. Demi Allah, saya betul-betul dizalimi‎,” kata Patrialis di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/1/2017). Patrialis mengatakan hal itu usai diperiksa intensif 1x 24 jam setelah ditangkap Tim Satgas KPK pada Rabu (25/1/2017). Mantan Anggota DPR dan Menkumham ini terlihat telah mengenakan rompi tahanan berwarna oranye saat keluar ruang pemeriksaan sekitar pukul 00.40 WIB.

Ia mengaku tidak pernah sedikitpun berbicara mengenai uang dengan Basuki yang diketahui Direktur Utama Sumber Laut Perkasa dan PT Impexindo Pratama serta puluhan perusahaan impor daging lainnya. Apalagi, kata Patrialis, Basuki bukan pihak yang berperkara dalam uji materi UU nomor 41 tahun 2014.

Untuk itu, Patrialis merasa statusnya sebagai tersangka merupakan ujian yang berat. “Nanti kalian bisa tanya sama basuki, bicara uang saja saya tidak pernah. Sekarang saya dijadikan tersangka, bagi saya ini adalah ujian, ujian yang sangat berat. Bagi MK ‎saya minta kepada MK tak usah khawatir, paling tidak nama baik MK agak tercoreng gara-gara saya dijadikan tersangka. Tapi saya katakan sekali lagi saya tidak pernah terima uang‎ satu rupiah pun dari orang yang namanya Basuki, apalagi Basuki bukan orang yang berperkara di MK. Tidak ada kaitannya dengan perkara itu. Dia bukan pihak yang berperkara,” katanya.

Mantan politikus PAN ini menegaskan, tidak pernah menerima uang dalam bentuk apapun termasuk voucher pembelian uang asing dari Basuki. Termasuk menerima uang dari rekannya Kamaludin yang menjadi perantara suap ini. “Tidak ada (uang dari Kamaludin), tidak ada yang namanya pak Basuki kasih uang‎.‎ Tidak ada (voucher pembelian uang asing),” katanya.

Meski demikian, Patrialis enggan berkomentar mengenai putusan terkait judicial review UU nomor 41 tahun 2014. Patrialis juga nampak gelagapan saat dikonfirmasi uang suap ini telah digunakannya untuk Umroh. “Ndak begitu dek, pokoknya ndak ada saja. Saya tidak pernah menerima uang dari Pak Basuki,” katanya.

Untuk diketahui, KPK telah menetapkan Patrialis dan rekannya, Kamaludin sebagai tersangka penerima suap. Patrialis dan Kamaludin diduga menerima suap sebesar 20.000 US dolar dan 200.000 dolar Singapura dari Basuki dan sekretarisnya, Ng Fenny, terkait Judicial Review Undang-Undang nomor 41 tahun peternakan dan kesehatan di Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam OTT pada Rabu (25/1/2017) lalu, selain menangkap Patrialis, tim satgas KPK juga menyita barang bukti berupa dokumen pembukuan perusahaan milik Basuki Hariman, voucher pembelian mata uang asing, dan draf putusan perkara nomor 129.

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Patrialis Akbar dan Kamaludin disangka melanggar Pasal 12 huruf c atau Pasal 11 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Sementara Basuki dan Ng Fenny sebagai tersangka pemberi suap dijerat dengan Pasal 6 Ayat (1) huruf a atau Pasal 13 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: