Penyebab Berjalan Kaki Mulai Ditinggalkan

Jakarta (tahuberita.com): Kebiasaan berjalan kaki di luar rumah beberapa tahun belakangan mulai ditinggalkan di Indonesia. Padahal pejalan kaki bisa memiliki beberapa keuntungan seperti menjadi orang yang dinamis, menurunkan peluang obesitas, dan menjadi orang yang lebih cerdas dan berwawasan.

Seorang psikolog, Ratih Ibrahim, menjelaskan hal itu seperti dikutip Senin (17/7/2017). Menurutnya, ada beberapa aspek mengapa orang Indonesia mulai enggan berjalan kaki.

“Pertama karena kita tidak terkondisi untuk melihat bahwa jalan kaki adalah hal yang lazim, kemudian apresiasi terhadap orang yang berjalan kaki sangat rendah dan sarana yang tersedia untuk pejalan kaki juga minim sekali,” ujar Ratih.

Menurut Ratih, ketimbang niat dari dalam diri, faktor eksternal yang membuat orang malas berjalan kaki lebih banyak. Misalnya, fasilitas trotoar yang beralih fungsi menjadi lapak PKL dan parkir serta kondisi trotoar yang tak menguntungkan bagi pejalan kaki.

Ratih mencontohkan, di lingkungan sekitar kediamannya memiliki trotoar yang sempit dengan kondisi banyak batu yang berserakan. Kadang, ada pula lubang di tengah jalan yang justru membuat pejalan kaki tak nyaman untuk melintas. “Kondisi ini menguatkan orang yang awalnya niat berjalan kaki menjadi tidak berjalan kaki. Jadi makin malas,” katanya.

Selain itu, Ratih menduga faktor lain yang menyebabkan orang malas berjalan kaki adalah mudahnya akses transportasi yang semakin lama terakumulasi menjadi kebiasaan. Ketika bicara perilaku, manusia adalah makhluk kebiasaan yang semakin terkondisi untuk melakukan perilaku tertentu, semakin terbiasa pula untuk melakukannya.

Perilaku itulah, jelasnya, yang kemudian menjadi keniscayaan. “Jadi makin lama kebiasan itu, akan menjadi perilaku kehidupan kita sehari-hari dan kita menjadi bangsa yang malas untuk melakukan apa-apa,” ungkap Ratih.

Di samping perilaku, kata Ratih, stigma bahwa jalan kaki menunjukkan strata orang tak berpunya sudah kadung melekat. Hal itu juga yang menyebabkan orang selalu berpikir menggunakan kendaraan meskipun jaraknya dekat. Unsur gengsi mau tidak mau menjadi warna yang memengaruhi perilaku manusia.

Menurut dia, seandainya pemerintah membangun sebuah kondisi sosial yang lebih kondusif, terutama pemanfaatan trotoar secara maksimal oleh pejalan kaki dan kemudahan transportasi, mau tidak mau sebuah perilaku baru akan terbangun. “Dan yang paling harus pahami adalah orang yang aktif bergerak seluruh sistem tubuhnya juga akan bergerak aktif dan membuat dia menjadi orang yang lebih tangguh, lebih sehat juga dan bersemangat,” ungkapnya.

Ratih menyarankan, masyarakat bisa memulai kebiasaan baru itu dari diri sendiri. Tanamkan dalam diri bahwa menjadi pribadi yang aktif bergerak dapat memberi kebaikan dari sisi kesehatan maupun ketangguhan.

Kebiasaan baik ini, jelasnya, bisa ditularkan ke keluarga dan lingkungan. Selain memulai kebiasaan baru yang baik, berjalan kaku juga memiliki banyak keuntungan. Di antaranya menjadi orang yang dinamis, menurunkan peluang obesitas, dan bisa menjadi orang yang lebih oke, cerdas dan berwawasan.

“Untuk pemerintah terutama adalah menempatkan posisi pejalan kaki sebagai pihak yang perlu dihormati. Kalau ada pejalan kaki yang menyeberang juga tentu harus ditempatnya dan jangan disambar begitu saja oleh pengendara lain,” jelasnya.

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: