Jakarta Bertambah Tua

Kamis 22 Juni 2017 Jakarta sudah berusia 490 tahun. Kota ini menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan sejak 1619.

Pertama kali berdiri balai kota, pada 1620, di Kali Besar, kawasan Glodok, Jakarta Barat. Kota Lama atau Tua yang penuh bangunan Belanda, bermula pada periode itu.

Lahirnya Jakarta, memang disebut berasal dari hari penaklukan Fatahillah atas Sunda Kelapa dari Portugis. Pada hari itu, 490 tahun lalu, Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta. Keberadaan wilayah ini disebut sudah ada sejak abad ke 12, setidaknya menurut buku Jakarta: a History karya Suzan Abeyasekere—dikenal sebagai Suzan Blackburn.

Pertentangan sejarah soal hari lahir Jakarta juga berkisar soal hari penaklukan tersebut. Husein Djajadiningrat, penulis Ensiklopedi Jakarta, salah satu yang memberikan perhitungan penanggalan berbeda untuk peristiwa yang sama.

Menurutnya, paduan penanggalan Jawa dan Islam, rupanya berpengaruh terhadap periode sejarah masa itu. Penanggalan juga menggunakan perhitungan masa panen.

Setelah berhitung, hasilnya perubahan nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta itu diperkirakan bertepatan dengan 9 Juli 1527 atau 17 Juli 1527. Versi lain menyebut kemungkinan peristiwa yang sama ini terjadi antara rentang 17 Desember 1527 hingga 4 Januari 1527. Terus berkembang, hingga menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan pada 1620.

Namun dari Sunda Kelapa maupun Jayakarta, nyatanya bukanlah kota paling penting di tanah Pulau Jawa. Pusat kekuasaan waktu itu ada di Bogor, Demak, Banten, dan Cirebon. Adapun pusat perekonomian untuk kawasan yang sekarang disebut Indonesia dan sekitarnya pada waktu itu berada di Malaka.

Sesudah Portugis menaklukkan Malaka pada 1511, satu kapal mereka merapat ke Pelabuhan Sunda Kelapa pada 1522. Mereka berwacana membangun benteng di tepi barat Ciliwung. Sebagai gantinya, Portugis harus membeli seribu karung lada per tahun dari penguasa Sunda Kelapa.

Ikatan perjanjian dibuat dengan penguasa lokal yang waktu itu berafiliasi dengan Kerajaan Pajajaran. Perjanjian tersebut diabadikan dalam wujud prasasti dan dikenal sebagai Padrao, saat ini tersimpan di Museum Nasional Indonesia. Namun, perjanjian ini tak pernah terealisasi pada akhirnya, telanjur kompeni Belanda tiba.

Kompeni Belanda pun merapat dan menaklukkan Jayakarta, penduduk wilayah ini sekitar 10.000 jiwa. Perkembangan Jakarta sejak itu, bisa ditengok di Museum Fatahillah, yang dulu bernama Museum Sejarah Jakarta. Museum ini merupakan bekas balaikota kedua di Batavia —nama baru dari kompeni untuk Jayakarta— yang berdiri pada 1627.

Jakarta dan Masalahnya

Jakarta terus berkembang menjadi Ibu Kota Indonesia, hingga telah dihuni oleh lebih dari 10 juta jiwa di 2017. Itu belum menghitung jutaan komuter yang tiap hari pergi pulang dari wilayah penyangga di seputar wilayah provinsi DKI Jakarta. Tantangan yang dihadapi Jakarta pun bertambah.

Lalu lintas Jakarta (sumber: kompas.com)

Melihat ke sisi ekonomi, 70 persen perputaran uang Indonesia 2017 disebut terjadi di Jakarta. Kantor-kantor pusat perusahaan besar pun cenderung ada di sana. Pusat pemerintahan juga digerakkan dari kantor-kantor di Ibu Kota.

Daya tarik Jakarta menjadi luar biasa. Urbanisasi terus terjadi. Orang super kaya gampang disebutkan keberadaannya, yang miskin juga tak terhitung jumlahnya. Mereka hidup bersama di wilayah yang tak sampai 700 kilometer persegi. Sudah begitu biaya hidup melambung tinggi, tak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan rata-rata warga.

Data Badan Pusat Statistik, rasio gini—indikator soal kesenjangan antara si kaya dan si miskin—di Jakarta mencapai 0,411 pada semester I/2016 dan 0,397 pada semester II/2016. Sebagai pembanding, angka nasional adalah  0,397 pada semester I/2016 dan 0,394 pada semester II/2017.

Pengamen Jakarta (sumber: buset-online.com)

Masalahnya, orang-orang yang datang ke Jakarta banyak juga ragamnya. Tak hanya suku, ragam itu mencakup soal latar belakang ekonomi, pendidikan, dan tentu saja kelakuan.

Faktor kelakuan itu juga yang menambah persoalan. Buang sampah sembarangan, kebiasaan melanggar aturan, lalu persaingan tuntutan hidup yang mengamini segala cara, termasuk pungutan liar dan suap. Data sampah per 2011 menyebut produksinya di Jakarta mencapai lebih dari 5.500 ton per hari. Pada kenyataannya, masalah mendasar sebuah kota tidak pernah usai dari masa ke masa.

Sebuah kota akan mengalami “titik jenuh”, banyak jenuh. Seperti jenuh penduduk, jenuh kendaraan, jenuh hunian, jenuh mal, jenuh kebanjiran, jenuh polusi, jenuh konflik, jenuh tawuran, dan jenuh-jenuh lainnya.

Karena itu, menurut Noprizal Erhan, Direktur Institut Paradigma Indonesia,sebuah kota butuh evaluasi secara komprehensif (menyeluruh) dan bukan “tambal sulam”. Kita butuh revolusi pemikiran tentang keberlangsungan sebuah kota (sustainable city). Kita butuh yang namanya “keseimbangan yang manusiawi” di kota.

Yang kita butuhkan adalah sebuah kota idaman seperti didambakan Joel Kotkin (2005). Yakni mengandung tiga prasyarat: sacred (bersih/indah), safe (aman dan nyaman), dan busy (dinamis).

Melihat Jakarta semakin menua, tantangan tak akan serta-merta reda. Semua warga dan orang-orang yang beraktivitas di dalamnya harus punya visi dan misi yang untuk nyaman dan sejahtera. Jangan cuma bisa mimpi melihat kota ini rapi, tertib, dan berjaya. Mari ucapkan selamat ulang tahun untuk Jakarta, dan mulai membantu lewat tindakan dan karya nyata.

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: